Sabtu, 24 Februari 2018

P R A S E J A R A H



“Hasil kebudayaan Mesolithikum dan Paleolithikum”

 
 
ilustrasi : Pemakaian kapak genggam atau kapak perimbas.
Di indonesia memiliki banyak kebudayaan dari zaman prasejarah hingga saat ini karena kebudayaan yang sifatnya dinamis dikehidupan masyarakat. Membahas mengenai kebudayaan tak lepas dari kebudayaan atau peninggalan-peninggalan sejarah yang ada pada zaman permulaan kehidupan manusia sebelum mengenal tulisan atau yang sering disebut sbagai zaman praaksara yang dikaitkan dengan teori-teori terjadinya bumi. Zaman praaksara akan berakhir saat zaman sejarah muncul yakni zaman dimana manusia sudah mengenal aksara atau tulisan. Akhir peradaban zaman praaksara antara wilayah yang satu dengan yang lain sangatlah berbeda seperti di Mesir sudah mengenal tulisan pada 4000 SM sedangkan di indonesia ditemukanya yupa ditepi sungai mahakam pada abad ke-5 Masehi. pada akhir zaman praaksara sangatlah mudah ditemukan adanya bukti-bukti sejarah. Tetapi,yang membuat sulit untuk menemukan bukti-bukti sejarah pada zaman praaksara karena pada zaman itu belum dikenal aksara atau tulisan sehingga bukti-bukti sejarah hanya berwujud benda atau artefak-artefak yang dibantu dengan ilmu lain seperti ilmu arkeologi, paleontologi dan lain-lain.
Zaman praaksara dibedakan menjadi zaman Paleolithikum, Mesolithikum dan Neolithikum. Namun ada yang menyebutkan juga bahwa terdapat zaman Megalithikum (zaman batu besar) yang dimasukkan kedalam zaman praaksara. Hal ini benar dapat diperkuat dengan jawaban bahwa zaman megalithikum merupakan suatu hasil kebudayaan yang muncul pada zaman Neolithikum bukanlah suatu era atau zaman. Jika megalithikum adalah kebudayaan batu besar maka pada zaman paleolithikum dan mesolithikum juga memiliki hasil kebudayaan yang khas mulai dari cara mempertahankan hidup dan alat-alat penunjang kehidupan mereka. Zaman paleolithikum adalah zaman batu dimana manusia purba tingkat kehidupannya masih berburu dan meramu pada tingkat awal dengan menggunakan alat-alat sederhana seperti mengumpulkan makanan dari alam (food gathering). Selain itu manusia zaman ini sudah mengenal api namun hanya untuk melindungi diri dari serangan atau ancaman binatang buas dan hidup digua atau tepi sungai mengikuti musim makanan (nomaden). Bukti kebudayaan zaman paleolithikum yang menjadi ciri khas adalah ditemukanya kapak genggam di wilayah Pacitan dan Ngandong. Di wilayah Pacitan ditemukan kapak perimbas atau chopper yang pada bagian sisinya dipangkas hingga tajam dan bagian yang lain dibiarkan begitu saja untuk genggaman. Kapak genggam ini masih diragukan asal lapisannya karena saat ditemukan berada dipermukaan bumi. Selain itu juga ditemukanya kapak genggam dan alat sederhana dari tulang dan tanduk di wilayah Ngandong. Yang membuat unik adalah alat sederhana dari tulang yang ujungnya seperti belati dan ujung tombak yang sisinya bergerigi. Alat ini digunakan untuk mengambil ubi dari tanah dan menangkap ikan. Selain itu juga ditemukan alat serpih yang disebut dengan flakes berupa alat kecil yang dibuat dari batu-batu kecil yang berwarna-warni untuk menguliti hewan buruan atau berfungsi seperti pisau.
Pada zaman Mesolithikum juga menghasilkan kebudayaan, tetapi bukan berarti hasil kebudayaan pada zaman Paleolithikum dilupakan dan hasil kebudayaan tersebut masih digunakan. Hasil kebudayaan pada masa ini masih kasar dan dibagi menjadi 3 bagian yakni pebble culture, bone culture dan flake culture. Pada bagian pebble culture terdapat 2 hasil kebudayaan berupa kjokkenmoddinger dan abris sous roche. Keduanya berada ditepi pantai karena mereka sudah mulai tinggal menetap dan mengatur masyarakatnya. Kjokkenmoddinger berupa tumpukan sampah kerang atau biasa disebut sbagai sampah dapur sedangkan abris sous roche merupakan gua batu karang untuk berlindung dari panas dan hujan. Kebudayaan lain juga ditemukanya batu pipisan yang digunakan untuk menggiling makanan atau menghaluskan cat dari batu merah. Zaman bone culture dibuktikan dengan adanya tulang manusia sbagai bukti manusia yang hidup pada zaman itu dan manusia pendukungnya. Selain itu juga ada alat sederhana dari tulang atau tanduk rusa dan pada kebudayaan flake culture ditemukanya flake berupa ujung mata panah bergerigi dan pebble.
 
Sumber : Noor, Yusliani dkk. 2015. Menyusuri jejak-jejak Masa Lalu Indonesia. Banjarmasin : Banjarmasin press. Diakses dari http://eprints.ulm.ac.id/1225/1/Pra%20Sejarah%20Indonesia.pdf  pada 19 Febuari 2018.

2 komentar:

usaha penjualan alat tulis

Hay gaissss..  Saya menjual beberapa alat tulis. Mendekati ujian sekolah banyak siswa siswi yang mencari alat tulis untuk ujian....